Kamis, 03 Januari 2013

CABANG - CABANG LINGUISTIK

         Masih seputar Linguistik, kali ini  Ralf akan memposting Cabang - cabang Linguistik yaitu Semantik, Pragmatik, dan . Makalah ini telah Ralf susun sebaik mungkin, namun karena kelalaian. Ralf nggak jadi mempresentasikannya. jadi untuk mengobati rasa kekecewaan  Ralf. Ralf akan membagikan makalah Cabang Linguistik ini. 


BAB 1
PENDAHULUAN
A     Latar Belakang
Bahasa merupakan salah satu alat atau media yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari – hari, oleh karena itu manusia tidak bisa terlepas dari bahasa itu sendiri, banyak sekali upaya yang dilakukan manusia untuk mengembangkan bahasa . Kemudian orang – orang menyebut bahasa itu sebagai linguistik atau ilmu yang mempelajari tentang bahasa.
Seperti halnya sebuah pohon yang tumbuh, akan ditumbuhi cabang kemudian ditumbuhi lagi ranting, begitu pula linguistik, ketika kata linguistik mulai dikenal sebagai ilmu bahasa, orang – orang kemudian mengkajinya lagi menjadi beberapa cabang linguistik, lalu dalam cabang tersebut masih terdapat bagian – bagiannya.Cabang – cabang linguistik yang disusun oleh para tokoh berguna untuk mempersempit kajian – kajian linguistik itu sendiri.
B      Tujuan
Makalah ini disusun untuk lebih memahami cabang – cabang linguistik yang berkaitan dengan semantik, pragmatik, dan leksikologi

C     Rumusan Masalah
1.      Apakah itu semantik, pragmatik dan leksikologi ?
2.      Apa saja bagian cabang – cabang linguistik tersebut ?


1
 
BAB II
CABANG – CABANG LINGUISTIK
A.    Semantik
Kata semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa yunani sema ( kata benda yang berarti “ tanda “ atau “ lambang “. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang. disini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik, seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure  (1966), yaitu yang terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk – bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang  pertama.

Kata semantik kemudian disepakati  sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan tanda – tanda linguistik, dengan kata lain semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain.

1.         Hakikat makna
Banyak teori tentang makna telah dikemukakan para tokoh. Salah satu teori tentang makna dicetuskan oleh Ferdinand de Saussure . menurut teori yang dikembangkan Ferdinand de Saussure  bahwa makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik.

2.      Jenis makna
Bahasa merupakan suatu alat yang digunakan untuk berbagai keperluan dalam kehidupan  sehari – hari, maka makna bahasa itu pun bermacam – macam jika dilihat dari segi pandangan yang berbeda. Adapun beberapa makna tersebut sebagai berikut :

2
 
                            a.          Leksikal
Makna leksikal adalah  makna yang sesuai hasil observasi indra kita atau makna apa adanya. Makna Leksikal sering kali disebut makna yang ada dalam kamus.
Contoh :
·         kuda memiliki makna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai.
·         Air memiliki makna leksikal sejenis barang cair yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari – hari

                           b.          Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang terjadi apabila ada proses gramatikal.
Contoh:
·      adik menendang bola melahirkan makna gramatikal. Adik bermakna ‘pelaku’, menendang bermakna ‘aktif’, dan bola bermakna ‘sasaran’

                            c.          Kontekstual
Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks
Contoh : perhatikan konteks kata kepala pada kalimat – kalimat berikut.
·         Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.
·         Sebagai kepala sekolah ia harus menegur muridnya
·         Beras kepala harganya mahal
Makna dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa itu.

                           d.          Referensial dan nonreferensial
Perbedaan makna referensial dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidaknya referen( acuan) dari kata – kata itu. Bila kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu diluar bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata itu disebut bermakna referensial. Kalau kata itu tidak mempunyai referen maka kata itu disebut nonreferensial.
Contoh :
·         Kata meja dan kursi termasuk kata referensial karena keduanya memiliki referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga. Sebaliknya,
·         Kata karena dan tetapi tidak mempunyai referen, jadi kata tersebut bermakna nonreferensial.

                            e.          Denotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi makna denotatif sebenarnya sama makna leksikal.
Contoh : Kata rombongan bermakna denotatif sekumpulan orang yang mengelompok menjadi satu kesatuan.

                            f.          Konotatif
Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan  dengan nilai rasa  dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.
Contoh :
·         kata babi pada orang yang beragama islam  mempunyai makan konotasi  yang negatif.

                           g.          Konseptual
Makna konseptual adalah makna yang dimilki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau  asosiasi apapun.   
Contoh :
kuda memiliki  makna konseptual ‘ sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai. Sesungguhnya makna konseptual sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial.

                           h.          Asosiatif
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa.
Contoh :
·         Merah bermakna asosiatif dengan ‘berani’.
·         Buaya bermakna asosiatif dengan ‘jahat’.

                             i.          Idiom
Makna Idiom adalah satu ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur – unsurnya, baik leksikal maupun gramatikal.
Contoh :
Menjual gigi tidaklah memiliki makna seperti gramatikal maupun leksikal, melainkan menjual gigi yaitu ‘ tertawa terbahak – bahak’.

                             j.          Pribahasa
Makna Pribahasa adalah kebalikan dari idiom, pribahasa masih bisa ditelusuri  atau dilacak dari makna unsur – unsurnya karena adanya ‘asosiatif’ antara makna asli dengan maknanya sebagai pribahasa.

Contoh :
‘Seperti anjing dan kucing’ bermakna bagai 2 orang yang tidak pernah akur.

3.         Relasi makna
Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Dalam pembicaraan tentang relasi makna ini biasanya dibicarakan masalah masalah yang disebut sinonim, antonim, polisemi, homonimi, hiponimi, ambiguiti, dan redundansi.

                            a.     Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan ujaran lainnya.
Contoh : antara betul dan benar

                           b.     Antonim
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara duah buah ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.
Contoh : ‘baik berantonim buruk’

                            c.     Polisemi
Polisemi adalah sebuah kata satuan yang mempunyai makna lebih dari satu. Misal kata kepala memiliki makna polisemi yang beragam
Contoh :
·         Kepalanya luka karena pecahan kaca
·         Kepala desa itu adalah paman saya
·         Kepala surat itu biasanya berisi nama dan alamat kantor.

                           d.     Homonimi
Homonimi adalah dua buah kata yang merupakan satu ujaran yang “ kebetulan “ sama, tapi memiliki makna yang berbeda.
Contoh :
·         Bisa yang berarti racun dan bisa yang berarti sanggup
·         tahu yang bisa berarti mengerti dan tahu yang bisa berarti makanan dari kedelai

                            e.     Ambigu
Ambigu adalah gejala yang dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh : buku sejarah baru.
Judul tersebut dapat ditafsirkan sebagai buku sejarah yang baru terbit, atau buku yang memuat sejarah baru. 

                            f.     Redundansi
Redundansi adalah berlebih – lebihannya unsur segmental  dala suatu bentuk ujaran.
Contoh :
·         Mita memakai rok hitam.
·         Mita berok hitam.
Kedua kalimat diatas memiliki makna yang sama. Pada kalimat pertama itulah yang kemudian disebut redundans, berlebih – lebihan dalam memakai kata.


4.         Perubahan Makna
secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Artinya. Dalam waktu relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Adapun perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.
                                 a.          Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.
Adanya perkembangan konsep keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan sebuah kata yang mulanya bermakna A menjadi B.
Contoh : sastra pada mulanya bermakna bacaan kemudian berubah mnjadi buku, lalu berubah lagi menjadi tulisan, huruf.
                                    b.      Perkembangan sosial budaya
Perkembangan dalam masyarakat berkenaan dengan sikap sosial dan budaya, juga menyebabkan terjadinya perubahan makna.
Contoh : kata saudara pada mulanya berarti seperut, tapi sekarang digunakan juga sebagai orang lain sebagai sapaan yang diperkirakan sederajat.
                                    c.      Perkembangan pemakaian kata
Setiap bidang keilmuan biasanya memiliki sejumlah kosakata yang berkenaan dengan bidangnya.
Contoh : dulu menggarap hanya digunakan di bidang pertanian saja  tapi sekarang kata menggarap juga memiliki makna yang berbeda misalnya pada kata menggarap skripsi.
                                   d.      Pertukaran tanggapan Indra.
Alat indra yang kita miliki mempunyai fungsi masing – masing untuk menangkap gejala – gejala yang terjadi dimuka bumi ini. Namun banyak sekalipemakaian bahasa yang terjadi pada alat indra.
Contoh : “perkataannya sangatlah pedas”, kata pedas berarti rasa panas yang terasa di lidah, namun kata pedas  pada kalimat tersebut ditangkap oleh telinga dalam artian pedas berarti perkataan yang menyakitkan.

5.      Medan makna dan komponen Makna
                                 a.          Medan makna adalah seperangkat unsur leksikal  yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian  dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu.
Contoh : medan warna dalam bahasa indonesia seperti merah, kuning, hijau, biru, abu – abu, coklat, putih, hitam.
                                b.          Komponen makna adalah adalah setiap kata, leksem atau butir leksikal  tentu mempunyai makna.
Contoh : kata ayah memiliki komponen makna / manusia/dewasa/jantan/kawin/ dan punya anak/
B.     Pragmatik
Pragmatik adalah bidang linguistik yang mengkaji bahasa dari sudut pandang ujaran pembicara. Pragmatik dapat dibagi yang terdiri atas:
1.      Pragmalinguistik
Pragmalinguistik adalah telaah mengenai kondisi-kondisi umum penggunaan komunikatif bahasa. Pragmalinguistik dapat diterapkan pada telaah pragmatik yang bertujuan mengarah pada tujuan linguistik, dimana kita mempertimbangkan sumber-sumber khusus yang disediakan oleh suatu bahasa untuk menyampaikan ilokusi-ilokusi tertentu. Ilokusi adalah cara melakukan sesuatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. Pragmalinguistik mempunyai hubungan erat dengan tata bahasa.
2.      Sosiopragmatik
Sosiopragmatik adalah telaah mengenai kondisi setempat atau kondisi lokal yang lebih khusus mengenai penggunaan bahasa. Dalam masyarakat setempat lebih khusus terlihat bahwa prinsip kerjasama dan prinsip kesopansantunan berlangsung secara berubah-ubah dalam kebudayaan yang berbeda, dalam situasi sosial yang berbeda, di antara kelas-kelas sosial yang berbeda. Dengan kata lain, sosiopragmatik merupakan tapal batas sosiologis pragmatik. Jadi jelas betapa berat hubungan antara sosiopragmatik dengan sosiologi.
a.       Batasan Pragmatik
                        Pragmatik menelaah keseluruhan perilaku insan, terutama dalam hubungannya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insan berperilaku dalam keseluruhan situasi pemberian dan penerimaan tanda. (George, 1964: 31-8).
                        Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur suatu bahasa.
                        Pragmatik membahas segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung pada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang diucapkan.
                        Pragmatik adalah telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta penyerasian kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. (Levinson, 1980;1-72).

                        Telaah mengenai bagaimana cara kita melakukan sesuatu dengan memanfaatkan kalimat-kalimat adalah telaah mengenai tindak ujar (speech acts). Teori tindak ujar bertujuan mengutarakan dan mengemukakan pertanyaan padahal yang dimaksud adalah menyuruh atau mengatakan sesuatu hal dengan intonasi khusus (sarkastis) padahal yang dimaksud justru sebaliknya.
Contohnya : Dapatkah Anda menaruh gula sedikit lagi ke dalam gelas ini = Taruh gula ke gelas ini!
Aneka Aspek Situasi Ujaran
1. Pembicara/Penulis dan Penyimak/Pembaca
2. Konteks Ujaran
3. Tujuan Ujaran
4. Tindak Ilokusi
5. Ucapan sebagai Produk Tindak Verbal
C.    Leksikologi
Istilah leksikon dalam ilmu linguistik  berarti pembendaharaan kata. Kata itu sendiri sering disebut  leksem. Adapun cabang linguistik yang beurusan dengan leksikon itu disebut leksikologi. Istilah ini agak jarang dipakai, karena urusan utama para ahli leksikologi adalah penyusunan kamus.
 
Setiap bahasa mempunyai pembendaharaan kata yang cukup besar meliputi puluhan ribu kata, setiap kata mempunyai makna atau arti sendiri sendiri, dan urusan leksikografi  tidak lain adalah pemerian arti masing – masing leksem .misalnya kata lupa : rupa. Satu – satunya perbedaan di antaranya ialah perbedaan antara /l/ dan /r/, jadi jelas tugas kedua  fonem itu adalah membedakan leksem – leksemnya.


BAB III PENUTUP

A     Kesimpulan

Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Dimana menurut teori yang dikembangkan Ferdinand de Saussure  bahwa makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Dalam kehidupan  sehari – hari kita bahasa sering digunakan untuk berbagai keperluan, maka makna bahasa itu pun bermacam – macam jika dilihat dari segi pandangan yang berbeda. Adapun beberapa makna tersebut sebagai berikut : Leksikal, Gramatikal, Kontekstual, Referensial dan nonreferensial, Denotatif, Konotatif, Konseptual, Asosiatif, Idiom, Pribahasa,

Adapun relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Dalam pembicaraan tentang relasi makna ini biasanya dibicarakan masalah masalah yang disebut sinonim, antonim, polisemi, homonimi, hiponimi, ambiguiti, dan redundansi.

B      Saran
Dalam kehidupan sehari – hari kita tak bisa terlepas dari bidang linguistik, karena linguistik selalu membahas tentang bahasa. Untuk memahami bagaimana pengunaan bahasa yang baik sesuai situasi dan kondisi, maka kita perlu mengetahui dan memahami apa saja cabang – cabang linguistik itu sendiri, agar kiranya saat kita menggunakan bahasa tidak terjadi kekeliruan.
12
 
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta (Edisi Revisi)
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik umum. Jakarta. Rineka Cipta
Verhaar, J. W. M, 2008. Asas – Asas Linguistik.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Guntur, Henry, Prof. Dr.1984. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa Bandung

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

1 komentar:

terima kasih artikel.

kunjungi http://ortograf28.blogspot.com/2014/11/pengertian-linguistik-dan-cabang-cabang.html

lengkap pembagian linguistik, cabang linguistik, dan juga penjabarannya
.
salam berbagi.

Poskan Komentar